Ini merupakan hasil renungan saya, atas apa yang saya alami akhir-akhir ini. Saya cukup yakin bahwa tingkat pengertian seseorang akan suatu agama yang diyakininya akan sejalan dengan kemampuannya dalam memimpin suatu umat. Tentu saja orang tersebut tidak hanya mengerti esensi agamanya, tetapi juga mengamalkannya (ya, karena dia sudah mengerti).
Seseorang yang baik ibadahnya, tentulah seluruh perbuatannya berdasarkan hal-hal baik yang diajarkan oleh agama dan menjauhi perbuatan jahat karena dia tau Tuhan membencinya. Ya kan?
Saya yakin semua agama di dunia ini, mengajarkan norma-norma yang baik dan mengatakan untuk menjauhi norma-norma yang jelek.
Saya pernah melihat 2 orang pemimpin, keduanya dari 2 agama yang berbeda, sepengetahuan saya keduanya jarang mengingat Tuhan dengan cara semestinya. Dan saya bisa melihat bagaimana mereka bersikap terhadap orang-orang disekitarnya, mereka nyaris memiliki persamaan sifat dan sikap. Contoh mereka menghargai orang lain berdasarkan status pendidikannya, sehingga orang yang berpendidikan rendah terkadang mereka remehkan, jadi bisa dibilang juga mereka pilih-pilih teman. Mereka melihat seseorang dari status duniawinya, bukan akhlaknya. Mereka pun tak memiliki rasa empati, padahal justru ini merupakan soft skill yang harus dimiliki oleh para pemimpin bukan? Pemimpin yang memiliki rasa empati, tentulah dapat melihat perasaan dan pikiran bawahannya. Sehingga apa yang menjadi keputusannya merupakan hasil dari pemikirannya yang akan menyenangkan bawahannya, masuk akal dan tidak melupakan kepentingan organisasinya tentunya. Bukankah itu adalah cikal bakal kebijaksanaan?
Kita tahu pemimpin yang bijaksana tentu akan dicintai oleh bawahannya. Pemimpin yang dicintai bawahannya akan memperoleh kepercayaan dari bawahannya. Sehingga bawahannya tersebut akan senang hati bekerja sesuai dengan arahannya. Ketika para bahannya sudah bekerja dengan senang hati, tentu akan tercipta suasana kerja yang menyaman dan menyenangkan. Ketika suasana kerja yang nyaman dan menyenangkan itu tercipta, maka produktivitas meningkat dan organisasi pun dapat berkembang. Hebat bukan?
Contoh pemimpin yang baik kita dapat Baginda Rasul. Kita tahu beliau memiliki akhlak yang mulia, kita tahu bagaimana beliau menjalankan ajaran agama dan bersikap. Sikapnya yang mulia tsb, menjadikan beliau bergelar “Al-Amin” yang artinya “yang dipercaya”. Dan kita tentu tahu seperti apa Islam ketika beliau pimpin. Besar, banyak pengikutnya, karena mereka senang dengan cara Rasul memimpin. Kenapa? Karena beliau menerapkan esensi agama Islam dalam bertindak.
Tak usahlah terlalu jauh melihat ke belakang. Saya kenal 1 orang pemimpin, beliau sangat rajin ibadah. Beliau murah senyum, ramah, dan suka ngajak ngoborol siapa saja muda-tua/ bawahan-atasan, pokonya kita tahu beliau bukan orang jahat. Saya yakin beliau berperilaku baik karena beliau tahu Tuhan membenci perilaku jahat. Dari perilaku yang baik itu, beliau mendapat kepercayaan dari para bawahan yang beraneka ragam tingkat pendidikannya. Para bawahan pun selalu menerima keputusan dengan senang hati, karena keputusan yang dipilih tentulah hasil keputusan yang terbaik setelah beliau melihat atau mendengarkan inti permasalahan. Beliau pun tak segan menanyakan pendapat dan berdiskusi dengan para bawahannya.
Berkebalikan dengan 2 pemimpin yang saya ceritakan sebelumnya, sikap kedua orang ini selama ini tidak terlalu disukai oleh para bawahan, sehingga bisa dibilang mereka tidak mendapatkan kepercayaan bawahannya. Pemimpin yang gak dapat kepercayaan dari bawahannya..gimana coba? Hiii…
Tentu orang bisa tahu jika ada orang yang mencari muka hanya untuk mendapat simpati/ kepercayaan dari orang. Tak perlu berpendidikan tinggi untuk melihat tabiat orang, cepat atau lambat pasti akan terlihat.
Nah, jadi dalam bekerja soft skill memang penting. Salah satu indikasinya bisa jadi adalah tingkat keyakinannya terhadap Tuhan. Mungkin alangkah baiknya jika kita memilih pemimpin, kriteria rajin beribadah pun harus dimasukkan :)
Mesin Waktu Generasi 90an | ❤ @Generasi90an
bahagia dan bangga jadi generasi 90an! ;)
Wah!
Our 20’s are the most pivotal points in our lives. This is the time in which we become responsible for how our future will unfold, due to the important acti
Tulisan ini diadaptasi dari tulisan penulis dalam blog pribadi penulis: www.imanusman.com Semua orang punya caranya masing-masing ketika mengambil keputusan
Baca postingan ini menjadi inspirasi saya untuk berpikir, apa langkah selanjutnya dalam hidup saya ini, setelah lulus S1..hehe..
Biarpun telat baru bacanya sekarang, lebih baik daripada tidak sama sekali :P